Hari Merdeka bukan Hari Pembebasan

Hari Merdeka bukan Hari Pembebasan
Muhammad Kholis


Hari Merdeka adalah hari dimana bangsa Indonesia ini merayakan kemenangan dalam melawan penjajahan dari penindasan orang-orang yang tak beradab. Namun saat ini hari merdeka dimaknai dengan kegembiraan tanpa sebelumnya melakukan pengorbanan dan perlawanan. Ini menjadi perenungan bagi seluruh warga negara agar hari merdeka ini tidak hanya sebatas ritual atau kegiatan formalitas yang itu tidak bernilai pasca hari merdeka ini berlalu. Tanggal 17 Agustus 1945 adalah sejarah yang sangat berharga, dimana para pahlawan telah berkorban materi, tenaga dan nyawa. Yang diharapkan hanyalah satu adalah kemerdekaan, yang mana masyarakat bebas bergerak dan bertindak. 

Hari ini negara Republik Indonesia sudah ke 73 tahun kemerdekaan, tetapi tidak ada yang namanya pembebasan, yang ada namanya kemiskinan, keterpurukan dan kemelaratan, karena seluruh harta dan tanah negara dikuasai oleh orang-orang asing non pribumi yang tak bertanggung jawab sehingga kesejahteraan tak lagi diterima masyarakat. Seluruh bidang dilahapnya mulai bidang ekonomi pasar, industri, pertanian, seluruhnya dirampas dan dikuasai. Bidang pendidikan tidak ada lagi sekolah gratis, sekolah orang bangsawan berbeda dengan sekolah orang pinggiran, biaya semakin mahal sehingga banyak anak putus sekolah, pendidikannya tak lagi tertata dan tak jelas arah hidupnya. Bidang Politik semua jabatan dikuasai oleh orang-orang kapital yang memiliki banyak uang, masyarakat miskin hanya menikmati kebijakan yang tak bijaksana. Bidang kesehatan tak ada yang nama berobat gratis, diawal berselimut membantu tetapi di akhir menipu. Dan banyak bidang yang lainnya juga mengalami nasib yang mengerikan sekali. 

Maka patutkah hari ini dinamakan hari merdeka yang katanya membebaskan segala hal yang diharapkan oleh masyarakat, bukankah ini hari penindasan yang segala aspek kehidupan selalu diatur dan dipaksa untuk melaksanakan kepentingan para penguasa negara. Akankah ketertinggalan negara ini berakhir jika selama pemimpin negara yang ambisinya hanya untuk kepentingan materi. Tak akan ada yang nama hari merdeka selama masyarakat tetap tertindas meskipun berwajah merdeka.

Sekarang banyak muka-muka gadungan yang hanya menginginkan ketika ada kepentingan. Apalagi pada musim demokrasi ini para calon-calon pemimpin negara berlomba-lomba bersuara, menempel gambar, memberikan santunan sesaat, membagi-bagi sembako menitan. Di tahun 2019 nanti adalah dimana masyarakat akan melihat tontonan ayam berkokok dan betarung siapa yang kuat dan dia yang menang. Sungguh sangat tragis negara ini ketika jabatan hanya diperebutkan karena egoisme individual. 

Tahun 2019, Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden adalah titik akhir dimana negara nanti akan dihanyutkan atau dilayarkan, kesempatan untuk merubah negara hanyalah ditangan masyarakat. Ini saatnya masyarakat harus melek akan segala ketidaktahuan dan kebodohan yang selama ini menjamur diseluruh pelosok. Dan saatnya yang menjadi pemimpin harus berlaku adil, bijak, santun, berbuat akan kepentingan masyarakat.

Komentar

Postingan Populer